Namaku Aria Vega.
Ya, namaku memang agak mirip anak laki-laki. Tapi aku perempuan
tulen. Aku bukanlah gadis sejahat perkiraanmu. Yah, paling tidak, aku
melakukannya karena terpaksa.
Saat ini aku sedang mengendap-endap
menuju kakak laki-lakiku, Evan. Ia 2 tahun lebih tua dariku. Aku akan
menakut-nakutinya. sekarang aku sedang menjadi semacam makhluk halus,
karena aku sekarang tidak kasat mata. Bukan Cuma jahil, aku juga
sedang menguji coba penemuan baruku.
Sebenarnya sudah
menjadi hobiku menakuti Kak Evan. Meski penampilan Kak Evan keren,
tapi dia tuh penakut banget. Dulu aku menggerai rambut panjangku yang
hitam lurus ini sampai menutupi mukaku. Dengan pakaian serba putih,
tidak heran jika Kak Evan mengira aku kuntilanak. Tapi sekarang Kak
Evan sudah tidak takut lagi jika aku berpura-pura jadi kuntilanak.
Sudah terbiasa. Aku jadi kesal karenanya. Lain kali aku akan berada
di samping Kak Evan jika Kak Evan melihat kuntilanak. Dia pasti akan
mengira kuntilanak yang ini asli. Padahal aku bisa saja merekayasa
dengan menggunakan proyektor. Tapi itu lain kali saja, kali ini aku
ingin mencoba penemuanku bersama ayah yang baru jadi ini.
Kak Evan sedang duduk di depan tv.
Dengan hati-hati, aku mencabut kabel pada TV. Dia sedikit terkejut,
tapi tidak ketakutan. Mungkin ia pikir TVnya rusak. Dia memukul
bagian atas TV. Cara tradisional membetulkan barang elektronik yang
rusak bagi orang awam. Kalau aku jadi Kak Evan, aku akan meneliti
kabelnya dulu sebelum memvonis TV itu benar-benar rusak. Jika
benar-benar rusak, aku akan membawa TV itu ke laboratoriumku dan
membetulkannya dalam waktu kurang dari 1 jam.
“Aria! TVnya
rusak, kamu dimana?” teriak Kak Evan memangilku. Rupanya cara
tradisionalnya tak berhasil, dia butuh aku dengan cara modernku. Aku
tidak menjawab panggilan Kak Evan. Sudah saatnya masuk ke bagian yang
menegakkan bulu kuduk. Aku mendekat pada saklar lampu. Aku
memati-nyalakan lampunya. Kak Evan mulai ketakutan.
“Aria, kamu
dimana? Jangan bercanda dong, malem Jum’at kliwon nih,” kata Kak
Evan dengan suara memelas, khas seseorang yang ketakutan.
Aku berhenti
memati-nyalakan lampu. Membiarkan lampu dalam keadaan menyala. Kak
Evan diam membeku dalam ketakutannya. Membuat keadaan sunyi senyap.
Hanya suara jangkrik dan gemerisik pohon di luar dalam kegelapan
malam yang terdengar. Saat yang bagus untuk memulai tahap
selanjutnya.
Aku mulai membuat
suara tawa-tangis mirip kuntilanak yang menegakkan bulu kuduk. Kak
Evan duduk ketakutan di atas sofa. Tapi itu tidak cukup. Aku ingin
Kak Evan menjerit dan lari terbirit-birit.
Sesuatu yang
kugunakan agar tak kasat mata adalah semacam jubah. Penemuanku
bersama ayah. Tubuhku yang tertutupi jubah akan menghilang. Aku
perlihatkan sebelah tanganku yang tidak tertutup jubah. Hasilnya
adalah tangan melayang tanpa tubuh yang apabila kau melihatnya akan
lari terbirit-birit. Dan Evan melihatnya. Ia menjerit histeris dan
meninggalkan ruangan secepat kilat. Padahal setahuku, kakakku itu
larinya kayak siput.
“Ahahahahahaha…” aku gak bisa
menahan tawa. Aku melepas jubahku agar kak Evan tidak kencing di
celana. “Kau lebih penakut dari pada yang kukira, kak!” ucapku
sambil menahan tawa.
Evan mendekat padaku. “Gak lucu ah!”
ucapnya agak sebal. Kejahilan memang lucu bagi sebelah pihak saja.
Dia menyambar jubah yang ada di tanganku. “Benda apa ini? Pasti
ciptaanmu lagi!” Evan mengalihkan perhatian agar aku tidak
mengolok-oloknya.
“Ya, lebih tepatnya ciptaan aku dan
ayah. Ayah yang merancang itu. aku hanya menyempurnakannya saja.
Benda ini namanya Jubah Kamuflase.” Aku merasa suaraku agak
bergetar mengatakannya. Membicarakan ayah membuatku ingin menangis.
Tapi aku sudah berjanji pada diriku agar tidak menangis lagi.
Ayahku meninggal
sebulan yang lalu. Kematiannya diperkirakan karena keracunan makanan.
Semua ini gara-gara pak Ferdi! Aku benci padanya. Dia membunuh
ayahku!
Waktu itu ayahku
diundang makan malam bersamanya. Katanya untuk membicarakan urusan
bisnis. Perusahaan Pak Ferdi ingin bekerja sama dengan perusahaan
ayah. Padahal aku sangat tahu saingan bisnis ayah yang satu ini
sangat membenci ayah. Dan Pak Ferdi bukanlah orang yang suka bekerja
sama. Pasti ada alasan lain Pak Ferdi mengundang ayah. Aku punya
firasat buruk, kerena Pak Ferdi suka sekali menyingkirkan semua
saingan bisnisnya. Apalagi ayahku adalah saingan bisnis utamanya. Aku
sudah memperingatkan ayah, agar tidak usah mendatangi undangan itu.
pak Ferdi itu jahat.lalu ayah bilang tidak baik berperasangka buruk
pada orang. Ia tetap datang. Firasat burukku itu menjadi kenyataan.
Ayah keracunan makanan di rumah Pak Ferdi. Tak usah pikir panjang
lagi siapa pelakunya, tentu saja Pak Ferdi jahat itu. Anehnya polisi
tidak menahan Pak Ferdi. Karena tidak ditemukan sedikit pun racun
pada makanan. Padahal tentu saja Pak Ferdi memakai racun yang tidak
dapat terdeteksi.
Tidak Cuma kali
ini Pak Ferdi lolos dari polisi, Tapi berkali-kali. Pak Ferdi sudah
menghilangkan semua bukti. Dia penjahat yang menyamarkan kejahatannya
dengan baik. Tapi bukankah aku lebih pintar? Aku beberapa kali
melihatnya sedang memperdagangkan barang illegal. aku mengambil
beberapa foto dan merekamnya lewat video. Sampai sekarang masih
kusimpan, aku akan memperlihatkannya pada polisi di saat yang tepat
nanti.
Aku dan kakakku
kehilangan sosok seorang ayah Untuk selama-lamanya. Ayah mengajariku
semua yang ia ketahui. Aku sangat merindukan saat kami menciptakan
penemuan baru bersama. Ia mendukung ide-ideku meskipun aneh. Seperti
jubah itu tadi. Ia merancangnya. Membeli semua bahan yang aku
butuhkan. Lalu bersama kami membuatnya. Saat ia meninggal, jubah itu
masih belum rampung. Jadi aku meneruskannya sendiri. Sekarang tidak
ada lagi yang akan membuat penemuan baru bersamaku. Aku merindukan
ayah. Tapi aku harus bersyukur masih memiliki kakak. Ia selalu
membuatku tenang.
Kak Evan mencoba memakai jubah itu.
Lalu melepasnya lagi. “Mirip jubah di Harry Potter.” ujarnya
takjub.
“Memang dari situlah inspirasinya.”
“Bagaimana cara kerjanya?”
“Jubah Kamuflase ini menyerap
warna-warna setempat, memantulkan cahaya yang dominan.” terangku
sesingkat mungkin. selain karena lagi malas menerangkan, juga karena
takut kalau nanti kak Evan nggak paham.
“kelemahannya?”
“Jubah Kamuflase tidak bisa membuat
pemakainya tak kasatmata sepenuhnya. sensor mikro dalam kainnya,
menganalisis dan memantulkan cahaya di area sekitar, tapi setetes air
saja mampu merusak segalanya. Kemampuan menghilangnya tidak akan
berfungsi lagi. Hanya bekerja dalam keadaan kering.”
“Bagaimana caranya kau menciptakan
jubah ini? Bukankah sekarang kondisi keuangan kita kritis?” aduh,
kak Evan mengungkit-ungkit lagi kenangan tentang ayah! memang benar,
kondisi keuangan kami saat ini kritis. Bahkan bisa dikategorikan
membutuhkan. Perusahaan elektronik ayahku bangkrut, ikut meninggal
bersamanya. Perusahaannya punya utang yang banyak kepada bank.
Alhasil, semua kekayaannya habis untuk membayar utang itu. Aku dan
Kak Evan hanya punya uang 2 juta dari belasungkawa untuk bertahan
hidup.
Aku dan kakakku terpaksa putus
sekolah. Putus sekolah tidak menjadi masalah besar bagiku. Lagi pula
aku malas sekolah. Selain karena tidak punya biaya, juga kerena
pelajaran sekolah itu terlalu mudah. Pelajarannya seperti pelajaran
anak TK bagiku. Walaupun aku masih berusia 14 tahun, tapi
pengetahuanku saat ini mungkin setara dengan sarjana, atau tingkatan
diatasnya. Yang kukhawatirkan adalah kakakku. Ia tidak sepintar aku.
Ia perlu meneruskan SMAnya.
Ibuku? Ia pergi ke Australia untuk
meneruskan pendidikannya. Tapi tidak ada satu pun kabar darinya sejak
5 tahun yang lalu. Aku tidak punya kerabat lain. Paman, bibi sama
sekali tidak punya. Keempat kakek-nenekku sudah meninggal. Aku dan
kakakku sebatang kara di dunia ini. Kakakku terpaksa bekerja kasar
untuk memenuhi kebutuhan. Aku kasihan padanya, setiap hari pulang
dengan kecapekan. Ini semua karena Pak Ferdi!
“Aku membuatnya bersama ayah sebelum
ayah…meninggal, ayah membelikan semua bahan yang diperlukan untuk
membuatnya.” Aku menjelaskannya pada kak Evan.
”Aku ingat saat kau dan ayah
menghabiskan waktu berjam-jam di laboratoriumnya. Ternyata kalian
menciptakan jubah ajaib ini!” kata kak Evan.
“ya, dan bukan hanya jubah itu saja,
bayak penemuan lain yang berhasil kuciptakan bersama ayah. Oh, ya,
satu lagi, jubah ini namanya jubah kamuflase, bukan jubah ajaib”
aku membetulkan.
“tapi ajaib lebih pas, aku kan lebih
suka kalau namanya jubah ajaib!” kak Evan memang sifatnya kayak
anak kecil. Suka pada hal-hal berbau sihir. Aku sebenarnya percaya
sihir itu ada, bukankah sains dan sihir itu berasal dari akar yang
sama? Hanya saja sihir tidak boleh lagi dikembangkan, karena alasan
spiritual.
“up to you,
kak.” Aku sadar jika terus menanggapi Kak Evan, maka persoalannya
tidak akan pernah selesai. Meskipun itu Cuma soal nama aja.
“Tapi,
sepertinya kita tidak memerlukan benda seperti ini. Bukannya aku
tidak menghargai penemuan peninggalan ayah kita, tapi andai saja
penemuanmu itu lebih berguna, pasti akan lebih menguntungkan. Oh, ya,
bagaimana kalau penemuanmu ini dipatenkan saja, dengan begitu kita
bisa dapat uang,” ujar Kak Evan.
“tidak mau!”
aku menolak dengan keras. aku tidak mau orang lain memiliki barang
ini, tidak boleh. Lagipula benda ini akan memicu masalah jika
dipasarkan.
“Tapi, bagaimana
cara kita mendapat uang kalau begitu, aku sudah capek kerja kasar.
Angkat-angkat barang, punggungku sakit semua.” Aku tahu kak, aku
juga tak mau kakak kerja seperti itu untuk dapat uang, tapi ada cara
lain.
“Aku punya ide” kataku.
“Apa itu?” Tanya kakakku.
“Tunggu sebentar, akan kuambilkan
sesuatu”
sebelum kakakku
bertanya lagi, aku sudah pergi menuju ruang bawah tanah. Tempat itu
adalah laboratorium sekaligus ruang kerja ayah dan juga tempat aku
membuat semua penemuanku. Dulu, ayah menciptakan penemuan baru
bersamaku di tempat ini. laboratorium kami lumayan luas, tapi
kelihatan sempit karena banyak benda elektronik berserakan. Karena
ayahku dulu pemilik perusahaan elektronik, jadi banyak tumpukan
computer bekas, proyek yang gagal, rancangan produk, perangkat
computer, penemuanku, dan masih banyak lagi. bahan sisa percobaan dan
penemuanku yang dulu dibelikan oleh ayahku masih tersisa banyak di
pojok ruangan. semua benda itu memenuhi laboratorium. aku jadi
kesulitan mencari benda yang sedang aku cari. Akhirnya aku
menemukannya di atas kumpulan CPU computer. Benda itu adalah laptop
ukuran mini seukuran kalkulator. Itu juga salah satu barang yang
dirancang ayah. Ia ingin mencoba memasarkannya. Sayangnya gara-gara
Pak Ferdi juga, harapan ayah hancur. Laptop ini bukan hanya sebuah
laptop yang diperkecil saja, tapi juga punya kemampuan yang belum ada
pada laptop lain. Aku membawa laptop mini itu ke Kak Evan.
“Ini dia kak” kataku begitu sampai
padanya.
“ini idemu? Memang apa yang bisa
dilakukannya?” Tanya Kak Evan penasaran. “ini laptop multi
fungsi. namanya S-calc, Smart Calculator. selain berfungsi
seperti laptop lain pada umumnya, juga bisa digunakan sebagai TV,
ponsel, flasdisk, dapat membaca informasi apa pun pada platform apa
pun, elektrik maupun organik. Bisa memutar video dari VCD/DVD dengan
cara memindai data yang ada di dalamnya, melakukan hubungan online,
menerima e-mail, menyusup ke komputer mana pun. dilengkapi pemecah
sandi untuk menemukan kata sandi. Dilengkapi berbagai aplikasi
komputer. Bisa digunakan membuka, memperbaiki, dan membuat dokumen
dalam program file apapun. Mempunyai 3 disk yang masing-masing
memilki memori 25 Gb. Baterainya mampu bertahan selama 2 tahun dan,
tentu saja, sama sekali tanpa kabel. Mudah dibawa-bawa karena muat
untuk dimasukkan saku dan juga tidak begitu berat.” ujarku bangga.
“WOW! Tak
kusangka benda imut ini punya kelebihan seperti itu. lalu kau akan
menjual benda ini agar bisa dapat uang, gitu?” Tanya Kakakku dengan
polosnya.
“Bukan! aku ingin melakukan sesuatu
dengan benda itu. sesuatu yang bisa menghasilkan uang yang banyak”
kataku. Mendengarnya, Kak Evan tertarik.
“Apa?” tanyanya.
“Sebelum itu, aku ingin meminta izin
dari kakak dulu”
“kenapa?”
“karena, sedikit kriminal. Apa kakak
mengizinkan?” tanyaku harap harap cemas. Memang kemiskinan
melahirkan butir-butir kejahatan. Itu sudah takdir.
Evan tersenyum licik.
Aku tahu dia pasti menyetujuinya.
Jalan pikiran kami sama
***
“Bagaimana cara kerjanya?” kata
kak Evan tak sabaran sambil mengamati s-calc.
“dengan ini, aku bisa menyusup ke
dalam rekening bank seseorang. Dan mengerim uang dari rekening
tersebut ke rekening kita.” Ujarku yakin. “tanpa terdeteksi! Alat
ini dilengkapi dengan mode hide.” tambahku supaya lebih
meyakinkan.
“Rekening siapa yang akan kita
curi?” Tanya kakakku.
“Orang yang membunuh ayah kita kak,
orang yang menikmati kekayaan karena kematian ayah. Pak Ferdi”
ujarku.
“Ide bagus. Aku ingin melihat orang
itu melarat.”
Kami duduk di sofa, Kak Evan mengamati
caraku menyusup ke rekening bank Pak Ferdi. Aku berhasil menyusup ke
rekeningnya. S-calc dengan cepat menghitung total dananya. Orang itu
memiliki kekayaan 10 trilyun lebih! Dia pasti tidak keberatan kalo
aku mengambil setidaknya setengah kekayaannya. Seharusnya dia harus
bersyukur karena aku telah berbaik hati tidak mengambil semuanya. Aku
mengirimkan dana itu ke rekening pribadiku. Lalu kupastikan transaksi
itu tidak bisa dibalikkan.
“Selesai!”
“Apakah kita kaya sekarang?” Tanya
kakakku.
“Tentu saja kak! Kita sudah jadi
trilyuner sekarang. Kakak tak perlu kerja kasar lagi!” kataku
senang.
“Apa kau yakin semua akan baik-baik
saja?” Tanya kakak cemas. Memang ini pertama kalinya kita melakukan
perbuatan kriminal. Tapi aku yakin semua akan baik-baik saja. “ya”
***
Dua hari setelah itu, semuanya masih
baik-baik saja. Malah lebih baik. Tapi Siang itu telepon tiba-tiba
berbunyi. Aku mengangkat ganggang telepon.
“Hallo?” tanyaku dengan penelpon.
Lalu suara diseberang menjawab.
“Hallo nak. Sedang menikmati
kekayaan sesaatmu?” kata seorang pria dengan suara berat. Aku tahu
suara siapa itu. Pak Ferdi. Aku tak takut padanya. Ia pasti tidak
akan berani menghubungi polisi. Kalo dia melakukannya, aku juga punya
kartu AS. Dia pasti takut semua kejahatannya akan terbongkar.
“Kekayaan macam apa yang bisa
didapat anak yatim piatu? Kecuali jika anda memberikan sedikit uangmu
pada kami”. Aku heran kenapa Pak Ferdi bisa tahu aku mencuri
uangnya.
“Jangan macam-macam nak! Aku sedang
berbaik hati sekarang! Kembalikan uangku atau kau akan kehilangan
satu-satunya keluargamu!” kata Pak Ferdi mengancam. Aku tak takut
pada ancamannya. Aku sudah kebal terhadap ancaman.
“Dari pada bapak mengancam, bukankah
lebih baik telepon polisi?” aku memancingnya.
“Aku tidak mau berurusan dengan
polisi walaupun itu hanya sekedar meminta bantuan.” Kata Pak Ferdi
sesuai dugaanku.
“Ow..ow. Takut kejahatan bapak
ketahuan rupanya.” aku memanas-manasinya.
“Kau akan menyesal berurusan
denganku Aria Vega!”
Tuuut … tuut …. Tuut. Sambungan
telepon sudah diputus. Tidak, justru kaulah yang akan menyesal.
Dia kalah omong denganku. Aku tidak semudah itu menyerah. dia pikir
aku siapa? Anak kecil ingusan?Aku segera meraih laptopku, kenapa bisa
terdeteksi? Aku mengeceknya. Pantas saja, hide modenya belum
aktif!
Lalu di layar terlihat ada e-mail
masuk. Aku membuka Lalu membacanya. Itu dari ibuku! e-mail itu
berisikan bahwa ibu akan pulang ke Indonesia hari ini. Dia memintaku
untuk menjemputnya sore ini di bandara Juanda. Di e-mail itu juga
berisikan alasan kenapa ibu selama ini menghilang. Dia dipenjara
karena sesuatu yang bukan kesalahannya. Begitu dibebaskan ia segera
ingin menemui keluarganya. Ibu pasti sedih mendengar ayah telah
tiada.
Aku memberi tahu Evan tentang ini. Dan
kami tak sabar ingin bertemu ibu. Kami segera menjemput ibu sore ini
bandara. Sesampai di bandara, kami menuggu 3 jam, tapi ibu tak
kunjung datang. Akhirnya kami pulang.
Sesampai di rumah, kutemui rumahku
kosong. Tidak ada ibu. Dimana ibu? Aku sangat sedih dan
khawatir. Meski ibu selama ini menghilang dan seakan tidak perduli
padaku, tapi tetap saja ibu adalah satu-satunya orang tua yang
kumilki. Aku tidak mau kehilangan orang tua untuk yang kedua kalinya.
Kak Evan berusaha menenangkanku.
Saat aku baru saja akan memutuskan
untuk mencari ibu sekali lagi di bandara, telepon rumah berbunyi. Aku
baru ingat sesuatu yang penting. Ancaman Pak Ferdi! Apa dia belum
puas membunuh ayahku? Aku segera mengangkat telepon itu.
“Hallo Aria kecilku. Aku tadi ada
urusan bisnis, jadi aku pergi ke bandara. Tak kusangka disana ada
seseorang yang kukenal. Dan sepertinya kau juga kenal. Jadi
kuputuskan untuk menawarinya berkunjung ke rumahku” Pak Ferdi
memulai pembicaraan. Menawari berkunjug adalah kata lain dari
menculik ibuku.
“Oke, sekarang kita seri Pak.
Kembalikan ibuku hidup-hidup dan anda dapat uangmu. Tapi sebelum itu
aku ingin memastikan ibuku belum mati.”
Dia menyerahkan telepon itu pada ibu.
Lalu terdengarlah suara yang tak aku dengar selama 5 tahun ini.
“Aria, anakku?
Kau kah itu? jangan turuti permintaannya nak!”
“Tenang saja bu, aku tak sebodoh
itu.” Sebelum ibuku bicara lagi, teleponnya sudah diambil alih oleh
Pak Ferdi.
“Sudah cukup reuininya. Aku minta
seluruh uangku kembali. Besok paling lambat atau siapkan liang kubur
ibumu. Hahaha…”
Tuuut…tuut…tuut
Aku tidak akan mengembalikan uang itu.
Lagi pula uang itu sudah tidak dapat dibalikkan. Aku punya sebuah
ide. Dan beberapa ide cadangan tentunya.
***
Aku menceritakan itu pada Evan. Aku
membuat rencana untuk mengambil ibu diam-diam dari rumah Pak Ferdi
tengah malam ini.
Evan menyetujui rencanaku itu. tapi
dia masih bingung. “tapi bagaimana? Kita tak mungkin bisa membawa
ibu tanpa terlihat oleh penjaga Pak Ferdi!” kata kak Evan.
“mungkin saja.” kataku sambil
menunjuk jubah kamuflaseku. “Apa kakak masih menganggap jubahku ini
tak berguna?”
“sangat berguna.” kata kak Evan
sambil tersenyum lebar padaku.
Aku bangga karena peninggalan ayahku
ini bisa berguna. Untuk menyelamatkan nyawa pula!
Dua hari yang lalu, setelah mencuri
uang Pak Ferdi, aku memikirkan beberapa kemungkinan yang akan
terjadi. Dan segala rencana jika ketahuan. Aku menghabiskan semua
bahan jubah yang tersisa dan menghasilkan 2 jubah kamuflase.
Sekarang, aku
bersiap untuk berangkat menyelamatkan ibuku. Aku membawa 3 jubah
kamuflase di dalam tas. Lalu S-calc aku taruh di saku celana bersama
barang yang kubutuhkan lainnya. Tidak lupa juga bukti kejahatan Pak
Ferdi yang selama ini kusimpan. Jika terpaksa memakai rencana B,
mungkin ini saat yang tepat untuk membeberkan kejahatannya.
Aku dan kakakku sudap siap pergi ke
rumah Pak Ferdi. Aku memeriksa barang bawaanku sekali lagi.
ketinggalan satu barang saja, rencanaku bisa hancur.
“Apa kakak sudah pakai penyumbat
telinga?” aku bertaya pada Kak Evan. Memastikan semua sudah
lengkap.
“Sudah. Memang untuk apa sih?”
“Rencana B. untuk jaga-jaga”
kataku. Aku selalu memikirkan segala kemungkinan. Lalu kami
berangkat.
***
Saat ini kami berada tak jauh dari
pintu gerbang rumah Pak Ferdi. Dalam kegelapan malam, kami memakai
jubah dan segera memasuki rumah mewah itu. Meski mewah, tapi tetap
terlihat seram dan menakutkan. Bukan karena ini malam hari, tapi
karena memang dari asalnya rumah ini menakutkan. Apalagi Pak Ferdi
menghuni rumah ini. Hampir seperti sarang raja iblis. Banyak satpam
di pos keamanan. Tapi kami sekarang tak kasat mata. Mereka tak dapat
melihat kami.
Setelah melewati
pintu gerbang, aku mengawasi setiap sudut rumah. Banyak sekali CCTV,
dan setiap pintu dipasangi alarm.
“Apa jubah ini anti kamera?” Tanya
kak Evan ragu-ragu.
“Kau meragukanku kak.”
“Baiklah, tapi bagaimana dengan
alarmnya?” tanyanya sekali lagi.
“Alarm tak menjadi masalah. Aku bisa
mematikan alarm dengan cepat.”
Kami masuk ke
rumah mewah itu. luar dalam tetap terlihat menakutkan. Setiap ruangan
ada alarm kebakaran. Jika sampai terdeteksi kebakaran maka akan
menyiramkan air otomatis. Aku harus berhati-hati agar jubahku tidak
basah.
Kami mengendap-endap sambil mengecek
semua ruangan. Akhirnya aku menemukan tempat ibuku dikurung. Aku
mengetahuinya dari balik jendela yang tertutup tirai, tapi aku bisa
melihat dari celahnya, ada orang yang diikat ke kursi. Itu pasti
ibuku.. tapi ruangan tempat ibuku berada terkunci. Aku harus
membukanya secara manual. Aku mengeluarkan kawat kecil dari saku.
Memasukkannya pada lubang pintu. Tak lama kemudian pintu terbuka. Aku
tak sabar ingin bertemu ibuku. Aku melangkah dengan terburu-buru.
Seharusnya aku tahu itu kesalahan fatalku. Karena tepat saat aku
melewati pintu, ada seutas benang kecil. Dan aku menginjak benang
itu, alarm berbunyi.
Kami berdua terkejut. Alarm berbunyi
dengan nyaringnya. Aku tak punya banyak waktu. Segera aku masuk ke
ruangan itu. Ruangan itu semacam gudang. Penuh dengan koran dan
majalah bekas. Diantara Koran-koran itu, ibuku yang diikat sedang
tertidur. Aku segera mengeluarkan pisau dari saku dan melepas ikatan
ibuku. Evan mengeluarkan jubah untuk ibuku. Ibuku yang tidur tadi
langsung terjaga ketika aku melepaskan ikatannya. Ia terkejut dan
ketakutan, mungkin karena aku sedang tak kasat mata. Ia ingin teriak
sangking takutnya, tapi mulutnya diperban. Aku melepas perban itu dan
membuka jubahku juga agar ibu bisa melihatku. Ibu masih terkejut dan
segera memelukku.
“Aria! kau menyelamatkan ibu nak.”
Ibu memelukku dengan kencang.
“Aku rindu ibu.” Aku memeluk ibuku
juga. Tapi alarm masih berbunyi. Aku tidak punya banyak waktu. Kak
Evan segera menyerahkan jubah kamuflase dan penyumbat telinga pada
ibu. Ia ingin bertanya tapi aku membungkamnya.
“Langsung pakai saja ibu. Cepat”
kataku pada ibu. Ia memakai jubah kamuflasenya. Begitu akan menuju
pintu, ada suara ramai dari luar ruangan. “Jika terdengar ledakan,
buka mulut kalian.” kataku pada ibu dan Evan.
Secepat kilat, Pak Ferdi dan para
premannya memasuki ruang penyekapan. Dia sangat kesal dan marah. Yang
ia temukan hanyalah gudang kosong belaka. Ia berkata, ”ternyata si
bocah tengil itu berhasil menyusup. Cari mereka! Pasti belum jauh
dari sini.” Beberapa premannya segera keluar.
Kami masih
bersembunyi pada salah satu sudut gudang. Tidak bisa keluar. Para
preman menghalangi pintu. Ia memeriksa seluruh ruangan, tapi tidak
menemukan apa-apa. Ia mengumpat dan menyumpah-nyumpah namaku. “jika
ketemu lagi! Tamat riwayatmu gadis kecil!”
Pak Ferdi mengeluarkan pemantik dan
cerutunya. Ia merokok untuk meredakan amarahnya. Tapi karena tidak
konsentrasi, ia mambakar jarinya sendiri. Rasakan tuh api!
Pikirku. Tapi masalahnya ia reflek membuang pemantiknya yang
masih menyala. Dan pemantik itu jatuh pada tumpukan Koran. Koran
mulai terbakar dan memicu alarm kebakaran otomatis.
Aduh, matilah aku
Air mengguyur seisi ruangan. Jubahku
basah kuyup. Kemampuan menghilangnya tidak berfungsi. Pak Ferdi
terkejut bagai melihat hantu.
“Apa-apaan ini!” katanya sambil
mendekatiku. Ia melepas jubahku dan menatapnya. “kau harus
menjelaskan semua ini Aria.” ia merenggut jubahku dan 2 jubah
lainnya. “Bawa mereka!” ia berbalik dan mengisyaratkan para
premannya.
Preman-preman itu menyeretku ke ruang
tamu. Kak Evan berbisik padaku, “Rencana B?”. aku menjawab,”Ya!
Rencana B”. kami dipaksa duduk di sebuah sofa. Aku pura-pura jatuh.
Ketika berdiri, aku memegang kaki meja di depan sofa. Menempelkan
sesuatu di sana, Lalu segera duduk di sofa. Pak Ferdi meletakkan
jubah di meja.
“Jelaskan apa ini? Apakah kau yang
membuatnya?” ia bertanya padaku.
“Kalau iya kenapa?” aku berbalik
bertanya kepadanya.
“Aku akan membebaskanmu dengan satu
syarat. Kau harus membuatkan barang ini untukku. Ini akan laku mahal.
Dan kelihatannya barang ini tak tahan air heh?”
“Aku tak kan pernah bekerja
untukmu.” aku menyentaknya.
“Bagaimana kalau nyawa kedua orang
tak berguna ini taruhannya?” ia mengancamku. Para preman Pak Ferdi
mengarahkan pisau golok mereka pada leher kak Evan dan ibuku. Ibuku
yang tak tahu apa-apa meraung berteriak. Kak Evan menatapku agar
segera melakukan rencana B. Aku mengangguk. Sudah saatnya.
Aku melirik kaki meja tadi. Sebenarnya
aku telah menempel bom bunyi disitu. Salah satu penemuanku dengan
ayah. Bom itu akan aktif dengan sandi suara. Aku hanya perlu
mengucapkan sebuah kalimat agar bom itu aktif. Aku sangat benci Pak
Ferdi. Dia membunuh ayahku, menculik ibuku, dan mengancam membunuh
Kakak dan ibuku! Pak Ferdi akan merasakan pembalasanku.
“Kau sudah menyerah nak?” dia
menertawakanku. Puas-puaslah tertawa pak! Sebentar lagi kau tak kan
bisa tertawa lagi.
“SELAMAT TINGGAL PAK FERDI.” aku
mengucapkannya dengan keras dan jelas. Itu kata sandinya. Lalu bom
bunyi meledak. Aku langsung membuka mulut. Kalau gigiku terkatup,
gelombang sonic dari bom itu akan menghancurkan gigiku
berkeping-keping. Untungnya Evan dan ibu ingat kataku tadi. Mereka
membuka mulut. Bom bunyi meledak dalam radius 10 meter. Tapi suara
yang ditimpulkan bisa membangunkan 10 rumah lebih.
Bom meledak dalam
semburan gelombang sonic, seketika melontarkan semua orang ke tempat
terjauh dalam ruangan. Aku, Evan, dan ibuku aman dalam sofa. Pak
Ferdi dan premannya menghantam dinding dengan keras. Sebagian dari
mereka kurang beruntung karena bonus terkena pecahan kaca. Ya,
pecahan kaca, bom bunyi ini juga mengakibatkan kaca-kaca dan beberapa
barang lain pecah. Gigi mereka yang terkatup juga pecah semua. Mereka
memegangi telinga mereka. Tapi gendang telinga mereka akan tetap
pecah. Kami memakai penyumpat telinga penyaring sonic. Gendang
telinga kami aman.. Pak Ferdi dan semua premannya pingsan seketika.
Setelah bom itu mereda, aku menarik
tangan Evan dan ibu. Mereka masih bingung dengan kejadian ini. Aku
melihat orang-orang terkapar tak berdaya itu. Gigi Pak Ferdi pecah
semua. Ia tidak akan bisa berbicara dengan jelas lagi. Dan juga tidak
akan bisa mendengar lagi. Ia akan seperti kakek-kakek yang tuli dan
bicara gak jelas. Ia pantas mendapatkannya.
Pasti bom bunyi
akan menarik perhatian banyak orang. Polisi juga pasti akan datang
memeriksa apa yang terjadi. Tapi Pak Ferdi akan terlalu ompong untuk
menjelaskan apa yang terjadi. Aku meninggalkan bukti kejahatan Pak
Ferdi. Di salah satu meja yang mudah dilihat, agar polisi bisa
menemukannya. Sebentar lagi Pak Ferdi akan menghabiskan sisa hidupnya
dipenjara.
Kami berhasil keluar dari rumah yang
porak poranda itu dan menjauh. Fajar mulai terbit saat kami sampai di
rumah. Kak Evan terlihat letih sekali. Ibuku terus mengajukan banyak
pertanyaan begitu sampai di rumah. Termasuk pertanyaan yang paling
tidak ingin kudengar, ‘dimana ayahmu?’. Aku berhasil menjawabnya
tanpa menangis. Tapi saat ibu menangis, aku juga tak bisa menahan
ingin ikut menangis. Semua kejadian ini sangat memilukan. Tapi kami
semua selamat, itu yang paling penting.
***
Ilmu pengetahuan tidaklah selalu baik.
Bila disalahgunakan, pasti akan menimbulkan masalah. Bila
dimanfaatkan dengan baik, pastinya akan berguna. Ilmu pengetahuan
adalah anugrah sekaligus musibah. Maka dari itu, kita harus
berhati-hati dalam penggunaannya. Aku telah menyalahgunakan
kepintaranku untuk berbuat jahat. Ya, aku akui aku salah, dan
hasilnya tidak akan baik. Aku akan belajar dari pengalaman.
Tapi aku tidak bisa berhenti ingin
menciptakan penemuan baru. Ide bermunculan di otakku dan menumpuk
disana. Sayang jika tidak dimanfaatkan. Kalian juga pasti memiliki
ide apapun itu. setiap ide baik akan berdampak baik juga. Jadi, ayo,
bersamaku kita mewujudkan ide itu dan mengubah kehidupan mnenjadi
lebih baik!
TAMAT
ini adalah cerpen pertamaku yang sudah rampung. semoga kalian suka ceritanya. :)
-AineSiti
Tidak ada komentar:
Posting Komentar